You are here: HomeEkonomiFaizal HF Komisi 2 DPRD” Produksi Kedelai Dalam Negeri!”

Faizal HF Komisi 2 DPRD” Produksi Kedelai Dalam Negeri!”

Published in Ekonomi
Written by  08 June 2021

BANDUNG – media-sindo.com
Menghilangnya Tahu dan Tempe di sejumlah pasar di Jawa Barat perlu disikapi secara serius. Terlebih masyarakat Indonesia dapat dikatakan hobi mengonsumsi makanan mengandung sumber protein nabati tinggi itu.

"Berdasarkan pantauan di sejumlah pasar tradisional, kenaikan harga kedelai dari sebelumnya 7 ribu rupiah per kilo hingga mencapai 12 ribu per kilo memicu produsen tahu tempe berhenti berproduksi," ungkap anggota Komisi II DPRD Jabar, Faizal Hafan Farid ditemui wartawan di Pasar Tegal Danas, Desa Hegarmukti, Kecamatan Cikarang Pusat, Senin (07/06/2021)kemaren siang. Faizal mengaku sudah sejak dua minggu lalu melakukan pengawasan ke sejumlah pasar di Jawa Barat.

"Saya berharap produsen tempe tahu tidak meliburkan kegiatan produksi dan penjualan. Tapi, akhir Mei 2021 kemarin, paguyuban tahu tempe Jabar tetap melakukan mogok massal dengan meliburkan kegiatan produksi dan penjualan Tempe Tahu," ungkapnya.

Dia mencatat kelangkaan Kedelai di Jawa Barat dan sudah menyarankan Satgas Pangan Jabar untuk melakukan operasi pasar.

Anggota DPRD Kabupaten Bekasi 2 periode berturut-turut (2004-2014) itu menjelaskan, kenaikan harga kedelai dalam negeri dikarenakan Indonesia masih mengandalkan pasokan kedelai secara impor. Sehingga, ketika harga kedelai global mengalami gejolak akibat tingginya permintaan di pasar global, maka harga Kedelai dalam negeri pun mengalami kenaikan.

"Tingginya permintaan kedelai dunia menjadi penyebab utama kenaikan harga," jelasnya.

Menanggapi hal itu, Faizal menyarankan pemerintah untuk menyiasatinya dengan stok yang melimpah dari Badan Urusan Logistik (Bulog) maupun lembaga lainnya.

"Begitupun program ketahanan pangan kita harus sudah mulai melakukan langkah-langkah peningkatan produksi Kedelai dalam negeri di tiap-tiap daerah".

"Sehingga saat panen Kedelai dunia terlambat, pasokan berkurang dan terjadi lonjakan di pasar global yang menyebabkan harga naik, tidak lagi berdampak terhadap kebutuhan Kedelai dalam negeri," saran Faisal.

Hal penting perlu menjadi perhatian pemerintah, akibat melonjaknya harga Kedelai, produsen tahu tempe melakukan segala cara agar tidak merugi. Salah satunya dengan mengurangi ukuran tahu-tempe menjadi lebih kecil.

"Segala cara dilakukan para perajin tahu-tempe mulai dari mengurangi ukuran tahu-tempe menjadi lebih kecil, tetapi hal tidak berdampak signifikan karena ukuran yang diperkecil juga menyebabkan tahu dan tempe mudah hancur".

"Jika sudah hancur, masyarakat jelas tidak mau beli, inilah sebabnya banyak pengusaha tahu tempe mengalami bangkrut," pungkasnya.
Memang sejak di berlakukan impor kedelai di Indonesia, kita menjadi bergantung pada negara lain. Pemimpin negara ini semula tergiur dengan harga kedelai murah dari luar, akibatnya petani kedelai kita menjadi bangkrut dan egan memproduksi kedelai lokal. Akibatnya saat kedelai naik, banyak produsen tempe berhenti, kalaupun tidak mereka mengurangi takaran standar yang biasa menjadi ukuran yang lebih kecil. akibtanya konsumen dirugikan. Mau bagaimana lagi itulah keputusan yang harus diambil.

Pemerintah saat ini tidak memiliki arah kebijakan yang bertumpu pada petani, dulu ketika pemerintahan suharto, memiliki program-program yang terarah dengan sistem repelita. Dimana setiap repelita selalu mengutakan program peningkatan hidup petani. Karena memang mereka menganggap bahwa negara kita ini adalah negara agraria yang memiliki karakteristik hujan dan panas yang seimbang. Sehingga bisa di tentukan kapan akan panen dan kapan masa cocok tanam.

Sekarang ini pemerintah tidak bisa mengatur sistem agraria yang tepat dan efisien, sehingga para petani lokal bisa berproduksi tanpa harus kebanjiran produksi sejenis dimasa yang sama.
Pemerintah tidak memiliki ahli sosial ekonomi pertanian yang mampu mengarahkan kebijakan pertanian yang mampu meingkatkan produksi dan kesejahtraan petani. Akibatnya saat panen sering melimpah dan efeknya harga jadi turun dan petani terpaksi merugi karena tidak sesuai dengan bisa produksi mereka.

Pemerintah lebih mementingkan kran impor hasil pertanian dari luar dengan dalih memenuhi kebutuhan dan stabilitas harga, tetapi tidak memikirkan jangka panjang, maka saat harga pertanian dari luar naik karena dollar naik, pemerintah jadi loyo dan produsen pangan jadi kebingungan karena bahan-bahan pokok naik. Disinilah letak kurang cerdasnya pemrintah.(red)

stop illegal logging

Berita Terpopuler

Danau samba, alternatif berlibur warga Kabupaten Bekasi.

Danau samba, alternatif berlibur warga Kabupaten Bekasi.

02 July 2017

Sinar Indonesia: Sukatani,Masyara...

"BKPRMI Dumai Himbau Kampus Waspadai Gerakan LGBT"

"BKPRMI Dumai Himbau Kampus Waspadai Gerakan LGBT"

08 March 2016

Dumai - Kelompok lesbian, biseksual...

"11 Tahun, TKW  Indramayu  Hilang Kontak Di Arab Saudi"

"11 Tahun, TKW Indramayu Hilang Kontak Di Arab Saudi"

17 June 2017

INDRAMAYU - Sinar IndonesiaKembal...

"Daryo Spd : Sosok Kartini wajib kita teladani...!!!"

"Daryo Spd : Sosok Kartini wajib kita teladani...!!!"

24 April 2017

Sinar Indonesia , bekasiKepala se...

Tenaga Kerja Indonesia  (TKI) Di  Negara Bahrain Peduli Bencana Banjir Di garut

Tenaga Kerja Indonesia (TKI) Di Negara Bahrain Peduli Bencana Banjir Di garut

16 October 2016

Indramayu-SINDOHimpunan Tenaga ke...

PJI Riau, Ikuti Pelatihan Jurnalistik Tingkat Nasional"

PJI Riau, Ikuti Pelatihan Jurnalistik Tingkat Nasional"

08 March 2016

BOGOR - Dalam rangka peningkatan pe...

Menyambut DIRGAHAYU RI,Camat Babelan adakan lomba  jalan sehat

Menyambut DIRGAHAYU RI,Camat Babelan adakan lomba jalan sehat

13 August 2017

Bekasi,media-sindo.comDalam rangk...

. Irianto Lambrie, menghadiri Rakor di Kemenko Kemaritiman

15 September 2017

JAKARTA, MEDIA_SINDO.COM ~ Gubernur...

save earth